oleh: Alimansyah (mahasiswa kedokteran hewan IPB)

Mutiara merupakan salah satu perhiasan yang sering digunakan, khususnya oleh wanita. Mutiara itu sendiri merupakan jenis batu permata yang dapat dihasilkan oleh mahluk hidup yaitu kerang
Secara alami mutiara dapat terbentuk oleh proses biomineralisasi diawali dengan masuknya suatu zat asing seperti sebutir pasir diantara mantel dan kulit, benda asing ini akan bertindak sebagai perangsang sekresi getah nakreas. Getah nakreas ini akan membentuk lapisan nakreas yang akan membungkus butiran pasir. Butiran pasir ini akan tergulung oleh jaringan mantel dan berbentuk bulat. Setelah beberapa lama terbentuk butiran pasir yang terbungkus lapisan nakreas yang dinamakan mutiara.

Mutiara terbentuk atas beberapa lapisan yaitu mineral yang disebut “aragonite,” yang mengandung kalsium karbonat, di lapisan yang lain ada zat perekat “conchiolin,” yang menahan aragonite di dalam mutiara. Karena aragonite merupakan zat yang setengah tembus cahaya, zat ini menjadikan mutiara tampak bersinar.

Umumnya hampir seluruh kerang dapat menghasilkan mutiara, namun tidak semua mutiara yang dihasilkan dapat memiliki niali jual yang tingi sebab kadang mutiara yang dihasilkan berbentuk tidak sempurna. Habitat kerang yang dapat menghasilkan mutiara dapat berasal dari air tawar maupun dari laut. Jenis mutiara yang dihasilkan pun berbeda-beda sesuai dengan kerang yang menghasilkannya,
Pinctada maxima misalnya dapat menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera menghasilkan mutiara yang bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata dan Pteria penguin menghasilkan mutiara yang umumnya tidak bundar. Kerang air tawar misalnya Margaritifera sp, jenis kerang ini dapat mengasilkan mutiara yang berbentuk cukup kecil.

Dahulu kerang menghasilkan mutiara secara alami, nelayan pun menggambil mutiara dari kerang yang berada dialam bebas, namun saat ini mulai dilakukan kegiatan membudidayaan kerang mutiara. Dari penanaman benda asing dikerang agar menghasilkan mutiara berkualitas hingga kegiatan pemiliharaan sudah dilaksanakan dengan intensif. Bahkan saat ini, dengan peningkatan kemajuan teknologi, mulai dikembangkan program selektif breeding yaitu menyeleksi kerang yang memiliki kualitas bagus sebagai induk. Kualitas bagus dalam hal ini dititik beratkan pada melihat pertumbuhan kerang dibandingkan kerang seusianya, bentuk dari cangkang dan warna dan bentuk mutiara yang dihasilkan.

Makan sushi memang nikmat. Tapi pehobi shusi sempat dihebohkan dengan kasus tuntutan seorang lelaki Chicago ke restoran akibat menghidangkan parasit cacing pita di ikan salmon yang belum matang. Lalu bagaimana dengan ikan dalam sushi atau sashimi yang memang tidak dimasak sama sekali?

Ilmuwan berpendapat bahwa pecinta shusi tak perlu cemas. Namun penghidang shusi sendiri juga harus ekstra hati-hati jika tak mau dituntut.

Standar

Ikan mentah berpotensi mengandung sejumlah bahaya lain selain parasit. Bakteri bisa berkembang di ikan yang sudah tidak segar dan menghasilkan enzim histamin yang bisa menyebabkan keracunan. Sejumlah ikan tawar tropis memiliki kandungan zat racun ciguatera yang memicu gangguan pencernaan dan saraf.

Tapi tenang saja, biasanya restoran sushi memiliki standar tersendiri dalam menyiapkan hidangannya. Setidaknya ikan itu harus segar dan disimpan dalam kondisi beku, minus 20 derajad Celcius tak lebih dari tujuh hari. Atau dalam suhu minus 35 derajad Celcius selama 15 jam. Langkah ini adalah untuk membunuh parasit.
“Makin sushi banyak disuka, makin ketat standarnya,” ujar Keith Schneider, pakar mikrobiologi dan keamanan pangan dari University of Florida.

Nasi dan Fugu

Kasus keracunan atau sakit yang disebabkan makan sushi justru kebanyakan dipicu kontaminasi bahan lain seperti merica kalapeno atau bahkan nasinya. Schneider sendiri pernah sakit setelah makan sushi akibat terkena bacillus cereus. Ini adalah jenis bakteri yang bisa menyebar cepat di dalam nasi. Nasi sushi semestinya diasamkan dalam cuka dengan kandungan PH hingga 4,1 untuk membunuh mikroba di dalamnya.

Ada juga kasus dimana keracunan berasal dari ikan fugu yang memang mengandung racun. Walau demikian, ayam mentah dan daging mentah jauh lebih berbahaya lagi sebab mengandung bakteri E.coli dan salmonela yang mematikan.

Diterjemahkan secara bebas dari Livescience.com
Foto: jungle-live.com

Minyak Ikan Berpotensi Hindari Kebutaan

Jumat, 13 Juni, 2008 oleh: siswono
Minyak Ikan Berpotensi Hindari Kebutaan
Gizi.net – Omega-3 dapat menekan risiko seseorang menderita gangguan penglihatan degeneratif.

Kebiasaan mengonsumsi minyak ikan menurut hasil beberapa penelitian memang memiliki khasiat bagi kesehatan khususnya jantung. Namun, ternyata tak hanya itu, mengonsumsi minyak yang kaya akan kandungan asam lemak omega-3 itu juga mampu mambantu menghindari risiko gangguan penglihatan.

Minyak ikan merupakan asupan yang mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Suplemen minyak ikan biasanya berasal dari ikan laut perairan dalam dan dingin yang diekstrak dari jaringan hati ikan cod atau jaringan lemak ikan salmon.

Seperti dilansir BBC News, Selasa (10/6), dalam edisi terbaru jurnal The Annals of Ophthalmology, tinjauan riset para ahli Australia menyatakan bahwa omega-3 dapat menekan risiko seseorang menderita gangguan penglihatan degeneratif yang disebut age-related macular degeneration (AMD) hingga 30 persen lebih. Namun demikian, para peneliti sama sekali tidak menganjurkan setiap orang untuk banyak mengonsumsi omega-3 jika hanya ingin terhindar dari ancaman tersebut. Para ahli dari Universitas Melbourne mencoba membuat tinjauan atas hasil sembilan penelitian mengenai kaitan omega-3 dan AMD. Sembilan riset ini secara total melibatkan 88.974 partisipan dan lebih dari 3.000 di antaranya mengidap AMD.

Menurut para peneliti, tinjauan seperti ini akan memberi kekuatan dari segi statistik dan analisis lebih komprehensif dibanding masing-masing riset yang hanya memperhitungkan sejumlah faktor atau sejumlah kemungkinan. Hasil tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa mengonsumsi ikan sekurangnya dua kali dalam satu pekan berpotensi menurunkan risiko menderita AMD. Penurunan risiko sebesar 38 persen ditemukan pada partisipan yang tercatat paling banyak mengonsumsi omega-3 dibandingkan mereka yang sedikit mengonsumsinya.

Pimpinan riset Dr Elaine Chong mengungkapkan, asam lemak omega-3 merupakan komponen vital untuk kesehatan retina. Terdapat kemungkinan jika seseorang kekurangan zat ini, maka akan lebih rentan terhadap AMD karena sel-sel pada retina mata selalu memperbarui secara alami.

Walau asupan omega-3 berkaitan dengan risiko AMD, Chong belum menganjurkan setiap orang untuk mengonsumsi secara rutin lantaran masih minimnya bukti penelitian. ”Meski meta-analisis mengindikasikan bahwa konsumsi ikan dan makanan mengandung omega-3 berhubungan dengan rendahnya risiko AMD, tapi belum ada cukup bukti dari literatur saat ini yang mendukung konsumsi rutin bagi pencegahan AMD,” jelasnya.

Dalam dunia kesehatan, AMD merupakan kondisi memburuknya penglihatan secara progresif dan tidak bisa diperbaiki akibat penipisan dan pendarahan di sekitar macula atau daerah pusat retina mata. Penderita AMD yang kebanyakan berusia 60 tahun ke atas biasanya kehilangan kemampuan untuk melihat secara detail. Pada beberapa kasus yang parah, penderita AMD bisa menjadi buta meski masih memiliki sedikit kemampuan untuk melihat.

Sejumlah riset selama ini juga sering menghubungkan asam lemak omega-3 dengan beragam manfaat kesehatan. Salah satu yang paling signifikan adalah rekomendasi penelitian bahwa omega-3 dapat membantu penderita sakit jantung. Berdasar riset, konsumsi suplemen minyak ikan secara teratur mampu menurunan ketidakstabilan elektris pada jantung, khususnya pada pasien yang mengidap kelainan detak atau ritme jantung.

”Pengaruh kestabilan ini mungkin suatu cara dari minyak ikan agar dapat menurunkan risiko kematian pada pasien pengidap penyakit jantung dan pembuluh darah,” ujar Dr Glenn D Young dari Royal Adelaide Hospital, Australia. ”Hasil riset ini tentu akan mendukung penggunaan minyak ikan atau pun konsumsi ikan lebih luas lagi pada pasien pengidap penyakit jantung koroner,” ungkapnya.

Beberapa riset sebelumnya melaporkan bahwa peningkatan konsumsi ikan atau pun minyak ikan berdampak pada penurunan risiko kematian akibat serangan jantung. Fakta ini pun lalu memunculkan ide bahwa minyak ikan dapat menyeimbangkan atau menstabilkan ritme jantung. Dalam riset tentang minyak ikan ini, Young dan rekannya melibatkan 26 pasien pengidap gangguan ritme jantung yang disebut ventricular tachycardia. Di dalam jantung para partisipan ini tertanam alat pacu jantung. eye

Sumber: http://www.republika.co.id